Umi no Onna
Kuarahkan lensa kamera
35 mm ku pada objek yang menarik hatiku selama dua hari masa liburan musim semiku
di desa kakek dan nenekku di pinggiran kota Yokohama ibukota prefektur Kanagawa
yang merupakan sebuah desa nelayan. Ya. Gadis itu. Seorang gadis yang memakai
gaun putih selutut dengan syal merah yang membalut lehernya dan membiarkan
rambut panjangnya tergerai yang ditiup angin laut dengan indah.
Aku memergoki
kelakuannya sejak kemarin pagi. Pada jam setengah tujuh pagi, duduk di atas
batu karang dengan duduk berjuntai membiarkan kakinya dihempas ombak dia
menatap cakrawala di kejauhan dan sesekali mengusap air mata yang menetes di
pipinya. Ketika jam menunjukkan jam 8 tepat dia melarungkan botol berisi surat
ke laut. Aku mematung mendesahkan napasku seakan dapat merasakan beban hati
yang sedang ditanggungnya. Aku mengagumi sosok fotogeniknya setiap kali kuabadikan
dengan kameraku.
Kuikuti langkahnya
diam-diam. Ia menuju ke sebuah kedai kecil yang menyajikan ramen dan masih tidak menyadari aku mengikutinya sejak dari tepi
pantai. Dipilihnya tempat duduk di pojok
ruangan dengan jendela terbuka yang menghadap ke laut.
Setelah memesan
semangkuk ramen dan air putih aku
duduk di meja seberang yang menghadap dapur sehingga aku bebas memandangi
sosoknya yang misterius. Dalam diam dia habiskan ramen yang masih hangat dengan tenang. Ku biarkan hari ini dia
pergi begitu saja setelah membayar ramennya,
walau sebenarnya aku masih penasaran dengan sikapnya. Mungkin besok aku masih
bisa bertemu dengannya. Harapku.
Setelah menepis
keraguan di diriku aku memberanikan diri bertanya pada nenek penjual ramen. Mungkin
dia mengenal gadis itu.
“Obaasan, apakah obaasan
mengenal gadis berbaju putih tadi?”
“Ah.. Dia adalah Misae
anaknya Hitori dan cucunya Youji. Dia tinggal di ujung jalan ini. Rumah yang
berwarna biru.” jawab nenek penjual ramen
singkat seraya meneruskan melayani pelanggan ramen.
Usai kubayar pesananku
tadi, aku beranjak untuk meneruskan kegiatan memotretku hari ini. Aku kembali
ke pantai menyusuri dermaga. Masih tampak sisa-sisa tsunami yang menerjang
seminggu yang lalu. Walaupun Yokohama tidak terkena dampak yang parah akibat
tsunami, namun kudengar ada beberapa nelayan yang hilang saat melaut karena
tersapu tsunami. Nampaknya kegiatan melaut di sini masih belum sepenuhnya
pulih, kulihat hanya ada satu dua kapal nelayan yang merapat ke dermaga
sepulang berlayar.
Setelah puas berkeliling
memotret pemandangan pantai dan puing-puing sisa tsunami aku beranjak pulang untuk
mengemasi barang-barangku karena besok siang aku harus kembali ke Tokyo
melanjutkan hari-hariku sebagai seorang pelajar SMA. Kuarahkan kakiku mencari
rumah gadis laut yang berwarna biru di ujung jalan seperti kata nenek penjual ramen. Rumah itu sangat sepi tidak
terlihat kehidupan sama sekali di dalamnya. Kupencet bel yang menempel di pagar
rumah. Aku menunggu dan mengambil beberapa foto rumah ini sebagai
kenang-kenangan.
“Hei bocah apa yang kau
lakukan?” seorang wanita separuh baya menepuk bahuku dan membuatku berbalik
dengan terperanjat.
“Ano.. Aku hanya penasaran ke mana penghuni rumah ini.” aku berusaha
mengembalikan nada bicaraku yang masih setengah gugup.
“Ahh.. Misae. Dia baru
saja pergi dengan ibunya tadi pagi.”
“Kemana?” tanyaku
kecewa.
“Dia pindah ke rumah
ibunya di Tokyo. Kakek dan ayahnya terseret tsunami seminggu yang lalu dan
masih belum ditemukan.” ibu itu berlalu meneruskan langkahnya.
“Ah gadis laut itu. Dia
hilang tanpa jejak, tanpa sempat aku berkenalan.” desahku menahan kekecewaan.
Hari ini hari pertama
tahun ajaran baru dimulai, aku baru saja naik ke kelas tiga. Kulihat pembagian
posisi duduk sudah ditempel di dinding kelas. Aku mendapat tempat nomor tiga
dari depan yang berbatasan dengan jendela yang menghadap ke taman. Aku sebangku
dengan Kurihara Misae, ahh sepertinya nama depan itu tidak asing.
Setiap kenaikan kelas,
anggota tiap kelas selalu di acak sehingga kemungkinan teman-temanmu sekelasmu
berbeda dengan kelas terdahulu sangat besar. Di sekolahku anak laki-laki dan
perempuan duduk sebangku untuk mencegah keributan di kelas. Katanya.
“Ohayou Aoi-kun!” seorang
anak perempuan berkacamata dengan rambut sebahu menyapaku dan menghempaskan
badan di kursi yang ada di depanku.
“Aku duduk di sini dan
aku sekelas lagi dengan Aoi.” serunya kegirangan. Aku hanya tersenyum tipis dan
membalas sapaannya tadi. Ia adalah Kurosagi Hikari. Kami selalu sekelas
semenjak kelas satu SMP dan dia selalu duduk di depanku. Hikari adalah gadis
yang periang, ramah, dan pintar menyembunyikan suasana hatinya. Dia berteman
tanpa pilih-pilih, semua orang menyukainya.
Kawano-sensei wali kelasku memasuki kelas dan
ketua kelas yang baru saja kami pilih memimpin salam. Kulihat seorang anak
perempuan mengikuti Kawano-sensei
dengan tertunduk. ‘Sosok yang tidak asing’ batinku sedikit ragu.
“Kurihara-san
perkenalkan dirimu.” Kawano-sensei
mempersilakan gadis itu untuk menyampaikan salam perkenalan.
“Ohayou gozaimasu. Watashi wa
Kurihara Misae desu. Aku siswi
pindahan dari Yokohama. Douzo yoroshiku
onegaishimasu.” ia memperkenalkan diri tanpa ekspresi. ‘Deg’. ‘Gadis itu.
Gadis laut yang kulihat di desa kakekku tempo hari.’ pekikku girang dalam hati.
“Kurihara-san silakan duduk di sebelah Iwamoto
Aoi.” telunjuk Kawano-sensei mengarah
ke kursi di sebelahku. Kuperhatikan pandangan Misae yang masih tanpa ekspresi, rupanya
dia memang tidak mengenaliku. Dia duduk di sampingku dengan tenang.
“Aku Iwamoto Aoi.” aku
menyodorkan tangan kepadanya. Disambutnya tanganku dengan dingin.
“Kurihara Misae.”
sahutnya singkat dan buru-buru melepas jabatan tanganku. Ia membuka tasnya dan
mengikuti pelajaran dengan serius.
Ketika makan siang aku
mencari-cari sosoknya di gerombolan siswa yang sedang mengantri makanan. Tidak
ada. Kualihkan pandangan ke segenap penjuru ruang makan. Dapat. Dia duduk
sendirian di meja yang menghadap taman sedang asyik menikmati bento miliknya. Kulangkahkan kaki menuju
tempatnya duduk.
“Bolehkah aku duduk di
sini.” tunjukku pada kursi di hadapannya. Dia menoleh sebentar padaku kemudian
meneruskan makannya. Kuanggap dia tidak melarangku. Aku meletakkan bentoku di meja dan mulai melahapnya.
Misae masih bergeming dan dengan khidmat menyelesaikan makannya. Setelah
memasukkan kotak bentonya ke dalam
kantong kain berwarna merah dia beranjak kembali ke kelas tanpa mengucapkan
sepatah kata pun padaku.
“Aoi-kun kemana saja kau? Kau tahu tidak,
kita dapat tugas kelompok mengerjakan tugas proyek fisika. Aku, kau, dan Misae satu kelompok. Tadi ketua kelas yang
mengundinya.” Hikari memberondongku saat aku kembali ke kelas.
“Hai Misae! Kita satu
kelompok.” dia berseru kegirangan ketika Misae duduk di sebelahku. Misae hanya
tersenyum tipis menanggapi perkataan Hikari.
“Nanti siang kita
mengerjakan tugas itu di rumahku ya.” ajak Hikari pada kami berdua. Aku dan
Misae mengangguk bersamaan.
Sepulang dari rumah
Hikari, aku dan Misae melewati sebuah taman yang penuh dengan sakura yang
sedang mekar. Ya. Ini adalah pertengahan April di mana sakura sedang
mekar-mekarnya. Ku keluarkan kamera digitalku mengabadikan momen hanami yang indah. Kulirik Misae yang
tampak terpesona dengan indahnya sakura. Ia berjalan mendahuluiku menuju salah
satu pohon sakura yang bertajuk rendah. Disentuhnya bunga sakura itu dan dia
tersenyum. Dia tersenyum! Kubidikkan kameraku untuk mengabadikan senyumnya yang
baru kali ini kulihat. Senyum yang sejati. Indah. Sangat indah. Dia sangat
cantik jika tersenyum seperti itu. Ada perasaan hangat yang membuncah dalam
dadaku, seperti ada ribuan kupu-kupu yang mendesak perutku saat aku menatapnya.
Tiba di stasiun kereta
kami berpisah. Dia pulang ke daerah Shinjuku yang berlawanan arah dengan
rumahku.
“Sayonara Misae-san.” aku
melambaikan tangan melepas kepulangannya. Dia hanya menganggukkan kepala dan
berlalu memasuki keretanya.
Semenjak mengerjakan
tugas di rumah Hikari seminggu yang lalu, Misae tidak nampak batang hidungnya.
Kata ketua kelas dia izin tidak masuk sekolah. Tak ada seorang pun di kelas
yang tahu keberadaannya. Bahkan tidak ada seorang pun tahu di mana dia tinggal,
yang kutahu dia tinggal di daerah Shinjuku. ‘Aku harus menanyakan pada Kawano-sensei sehabis sekolah’ pikirku.
Dengan mengantongi
alamat rumah Misae yang kudapat dari Kawano-sensei
aku dan Hikari naik shinkasen menuju
rumahnya. Namun kami harus kecewa. Tak ada seorang pun di rumahnya. Sepi. Aku
dan Hikari untuk beberapa saat hanya mematung di rumah Misae tak tahu harus
kemana untuk menemui Misae. Seorang nenek keluar dari seberang rumah Misae dan
menghampiri kami.
“Kalian temannya
Misae?”
“Hai obaasan. Kami temannya Misae di sekolah.” jawab kami serempak.
“Ah begitu. Tapi Misae
sudah seminggu ini di rawat di rumah sakit Okubo di daerah Shinjuku ini juga.”
terang nenek itu lagi.
“Ah kalau kalian mau
anakku menyimpan nomor telepon ibunya. Siapa tahu kalian membutuhkannya.
Sebentar kutanyakan anakku.” nenek itu kembali ke rumahnya meninggalkan kami
yang masih belum percaya Misae sakit selama ini.
Nenek itu datang
menghampiri kami dan menyerahkan secarik kertas berisi nomor telepon ibu Misae
dan alamat rumah sakit tempat Misae di rawat. Setelah mengucapkan terima kasih
pada nenek itu kami pun pamit menuju rumah sakit tempat Misae dirawat.
Sesampainya di rumah sakit Okubo kami menelepon ibu Misae dan menanyakan kamar
tempat Misae dirawat.
Misae tampak terkejut
dengan kedatangan kami berdua yang mungkin tidak disangkanya sama sekali.
Kulihat mukanya sangat pucat dan lesu. Kami disambut oleh ibu Misae yang ternyata adalah seorang dokter bedah di rumah
sakit ini. Dia seorang wanita yang ramah dan parasnya sangat mirip dengan
Misae.
“Misae-chan kau sakit apa?” tanya Hikari
khawatir. Aku mematung di belakang Hikari menanti jawaban Misae.
Misae hanya tersenyum
membalas pertanyaan Hikari. “Kami mengkhawatirkanmu. Kau tidak masuk sekolah
selama seminggu.” Hikari memegang tangan Misae erat.
“Kalian tidak usah
khawatir. Aku baik-baik saja.” Misae masih menyembunyikan penyakitnya.
“Kau tahu tidak tugas
kelompok fisika yang kita kerjakan kemarin mendapat nilai 100.” Hikari berseru
kegirangan.
“Yokatta ne.” sahut Misae dengan tersenyum.
“Misae-san cepatlah sembuh. Teman-teman sekelas
merindukanmu.” aku tersenyum menatap wajah Misae.
“Sayonara Misae-chan kami
pamit dulu. Cepatlah kembali ke sekolah.” Hikari melambaikan tangan pada Misae.
Aku melambaikan tangan pada Misae yang dibalas dengan sebuah anggukan dan
senyuman.
Sudah dua minggu
berlalu sejak Misae tidak masuk. Ia masih belum menampakkan batang hidungnya di
kelas. Sepulang sekolah aku menuju rumah sakit tempat Misae di rawat. Kudapati
kamarnya kosong. Kemudian ibu Misae datang dengan tergopoh-gopoh menghampiriku.
“Kau Aoi temannya Misae
yang waktu itu bukan?” tanyanya seraya memegang pundakku.
“Hai saya Aoi. Dimana Misae?” sahutku kebingungan.
“Misae dipindahkan ke
ruang ICU. Dia akan dioperasi hari ini.” jawab ibu Misae lemah.
“Di..dioperasi?
Memangnya Misae sakit apa? Dia bilang dia tidak apa-apa.” mendadak aku merasa
badanku limbung.
Ibu Misae menghela
napas dengan berat. “Dia terkena tumor otak yang baru terdeteksi dua bulan yang
lalu. Dia sering mengeluh sakit di kepalanya, akan tetapi ayahnya menganggap
itu hanya sakit kepala biasa.”. Ibu Misae tampak menyesal.
“Aku bercerai dengan
ayah Misae dua tahun yang lalu. Dia ikut ayahnya tinggal di desa kakeknya.
Adiknya Misae Ryuu ikut denganku tinggal di sini.” ibu Misae menerawang
mengenang masa lalunya.
“Ketika tsunami 11
maret lalu menyeret ayah Misae dan kakeknya yang sedang melaut. Misae merasa
sangat kehilangan. Waktu itu dia pingsan cukup lama. Aku yang khawatir
membawanya ke rumah sakit terdekat dan hasil yang kudapat sangat mengejutkan.
Misae terkena tumor otak stadium 3. Sebagai seorang dokter aku mengerti
persentasi kemungkinan Misae sehat seperti sediakala sangat kecil. Aku
membawanya pindah ke Tokyo dan dirawat di rumah sakit ini. Misae bersikeras
untuk melanjutkan sekolah. Akhirnya dia pindah ke sekolahmu.” setetes butiran
bening bertengger di sudut mata ibu Misae. Aku hanya terpana mendengar
penjelasan yang sama sekali tak akan kusangka.
“Dua minggu yang lalu
aku menemukan Misae pingsan di kamar mandi dengan hidung berlumuran darah. Aku
sangat panik dan membawanya ke rumah sakit. Setelah seminggu saat kalian
menjenguknya, keadaannya sedikit membaik. Operasi pengangkatan tumornya
dijadwalkan hari ini. Ayo kita temui dia, tapi kau harus memakai baju untuk
masuk ke ruang ICU.” Ibu Misae menuntunku ke ruang ganti steril. Aku masih
tergoncang mendegar semua kenyataan ini. Tak kusangka sedikit pun gadis laut
dengan sosoknya yang misterius menyimpan penderitaan yang dalam. Kurasa ada air
mata yang menetes di pipiku.
Kulangkahkan kaki
menuju ruang ICU, Misae tergolek lemah dengan beragam peralatan yang mengelilinginya.
Sebuah selang oksigen terpasang di hidungnya. Misae tersenyum lemah menyambut
kedatanganku. Bibirku kelu tak tahu harus berkata apa. Ku raih tangan Misae dan
menggenggamnya erat. Kupaksakan tersenyum padanya walau hatiku terasa perih.
“Aoi-kun kau datang.” sapanya lemah. Aku
terpaku dan sudut mataku mulai menganak sungai. Aku tak sanggup lagi menahannya.
Seluruh pelupuk mataku dipenuhi air mata. Ya. Aku menangis di hadapan Misae
yang masih berusaha tersenyum berjuang melawan rasa sakit di kepalanya.
“Aishiteru Misae-chan.”
akhirnya kata itu berhasil keluar dari mulutku. Kuraih tangannya dan
mengecupnya lembut. Ekspresi wajah Misae sedikit berubah. Ada raut kesedihan
dan luka yang terpancar di sana, namun ia berusaha menutupinya dengan
tersenyum.
“Berjuanglah Misae! Kau
pasti bisa pulih seperti sedia kala.” kataku dengan terisak.
“Aoi-kun. Gomen
ne. Jika aku pergi kau harus baik-baik saja. Jangan bersedih ya.” ucapnya
lemah menahan kepiluan. Apa? Dia tidak boleh berkata begitu. Dia tidak boleh
pergi meninggalkanku. Operasinya pasti sukses. Aku berkeras dalam hati.
“Iie Misae.” aku
menggeleng.
“Aku akan menunggumu
untuk kembali sehat Misae.” lanjutku yakin. Misae hanya tersenyum membalas
kata-kataku.
Di dalam ruang operasi
kutahu Misae dan para dokter itu sedang berjuang. Aku dan Hikari yang baru saja
datang sedang berdoa menunggunya di bangku yang menghadap ruang operasi.
Seorang suster datang menghampiri kami. Rupanya dia kasihan melihat kami yang
tampak cemas dan gelisah sejak dua jam yang lalu.
“Aku berdoa untuk
kesembuhan gadis itu.” senyumnya dengan tulus. Aku mengangguk dan membalas
senyumnya.
“Minumlah.” dia
menyodorkan segelas teh hangat kepadaku dan Hikari.
“Aoi. Kenapa operasinya
lama sekali. Apa yang terjadi pada Misae.” akhirnya Hikari bertanya padaku.
Memang sejak dia datang
aku belum berkata sepatah pun padanya. Aku menceritakan ulang semua yang
kudengar dari Ibu Misae kepada Hikari. Dengan sesegukan Hikari mendengarkanku
bercerita. Dia tampak tergoncang mendengar kenyataan yang terjadi pada Hikari.
“Misae-chan kumohon.” ucapnya lirih seraya
menyeka air mata yang terus menganak sungai di pipinya.
Lampu ruang operasi
padam. Kulihat Ibu Misae keluar menghampiri kami.
“Bagaimana operasinya
tante?” tanyaku dengan harap-harap cemas. Ekspresi wajahnya tidak terbaca.
“Tumornya berhasil
diangkat. Misae dipindahkan ke ruang ICU lagi. Kami masih mengontrol keadaannya.
Seorang anak yang
kutaksir masih berusia sekitar 13 tahun menghampiri Ibu Misae.
“Okaasan! Bagaimana keadaan oneesan?”
tanyanya dengan raut wajah jelas menunjukkan kekhawatiran.
“Oneesan baik-baik saja.” senyum Ibu Misae lemah, keraguan tampak di
wajahnya.
“Apakah aku boleh
melihat oneesan?” sambungnya penuh
harap.
“Boleh. Tapi kau harus
memakai baju steril dahulu.” jawab ibu Misae seraya menuntun Ryuu ke ruang
ganti steril.
Aku dan Hikari masih
menunggu di ruang tunggu ICU. Setengah jam kemudian Ibu Misae bersama Ryuu yang
tertunduk sedih menghampiri kami.
“Misae. Dia pergi. Baru
saja.” terang Ibu Misae pendek yang sudah tidak sanggup menahan tangisnya.
Hikari memelukku dan menangis pilu. Aku tidak sanggup berkata-kata. Ibu Misae
menyerahkan sebuah diari padaku.
“Bacalah.” dia berlalu
dengan dipapah Ryuu kembali ke ruangan dokter.
Diari Misae berisi
tentang catatan kesehariannya. Yang membuatku terkejut, dia mengenaliku sebagai
anak laki-laki yang memotretnya diam-diam dan mengikutinya ke kedai ramen di desa kakekku dulu.
Aku membaca hingga
halaman terakhir yang tertulis. ‘Kupikir
aku jatuh cinta pada sosok itu laki-laki itu yang begitu memesona dengan
kameranya. Iwamoto Aoi.’. Lagi-lagi tangisku pecah, kulirik Hikari yang
masih tergugu di sebelahku. Misae aku tidak mau kehilanganmu. Batinku memekik
pilu.
Hari ini prosesi
penaburan abu kremasi Misae. Ia menulis di surat wasiatnya, jika ia meninggal ia ingin abunya ditaburkan
di laut yang ada di desa kakeknya. Kami berlayar ke tengah laut. Ibu Misae
dengan sesegukan menyerahkan pot berisi abu kremasi Misae padaku. Dengan pilu
kutaburkan abunya di laut.
Selamat jalan Misae..
Gadis lautku yang mengikat hatiku dengan pesonanya. Aku harap kau bahagia
bersama-sama ayah dan kakekmu di sana. Aku akan selalu mencintaimu dan
menyimpanmu di hatiku. Kularungkan sebuah botol kaca berisi surat terakhirku
untuk Misae untuk melepas kepergiannya.
***
End





Comments
Post a Comment