Retorika
Aku tahu ada beberapa
hal yang tidak dapat dijabarkan dengan penalaran rumus-rumus rumit. Hal-hal
yang sama sekali tidak dapat dimengerti dengan logika. Aku tahu. Namun, aku
masih tidak mengerti. Mengapa interaksi kehidupan manusia begitu rumit. Kawan
menjadi lawan, cinta menjadi benci, suka menjadi duka, bertemu menjadi berpisah,
terikat menjadi terputus.
Di dunia ini ‘life happily ever after’ itu hanya terjadi di dunia dongeng, aku
meyakini hal itu. Ya. Keyakinan itu hanya diyakini oleh mereka yang tidak percaya
akan cinta sama seperti aku yang menganggap cinta hanyalah mitos belaka. Bertolak
dari keyakinan itu aku menjalani kehidupanku yang sekarang. Menghindari
interaksi yang dapat menjerumuskanku dalam proyeksi cinta.
Aku mengenal sosok
laki-laki itu seminggu yang lalu. Dia seorang bujangan tampan, berperawakan
sempurna dengan rambut tebal yang tersisir rapi, sorot matanya tajam
menggambarkan kecerdasan, pakaiannya berkelas serta sikapnya yang misterius
namun bertangan dingin. Semua itu adalah pandangan dalam proyeksi dunia nyata
yang dianut orang-orang. Berbondong-bondong wanita yang dengan sukarela bertekuk
lutut di hadapannya. Namun menurut proyeksiku, dia tidak ubahnya sebuah produk
yang diciptakan dan dibentuk oleh tuntutan dunia sempurna versi mereka. Aku sama
sekali tidak tertarik.
Laki-laki itu. Arrendra
Gunawan. Direktur baru kantor penerbitan tempatku menjalani separuh kehidupan
nyataku. Ia berlalu di depanku dengan laku aristokratnya dan menyisakan aroma maskulin
yang menusuk hidungku.
“Hatsyii.” aku bersin, benci
dengan aroma maskulin yang menusuk indra penciumanku. Dalam hitungan menit sudah cukup membuatku jengah.
Ia menghentikan langkahnya dan berpaling menatapku dengan wajah heran. Aku berlalu meneruskan langkah menuju tangga darurat ke ruang editorial di lantai atas. Berbaur dengan orang lain dengan jarak sedekat itu walau tidak akan menjangkau angka satu dalam hitungan menit membuatku jengah. Aku takut ada yang mengenaliku.
Ia menghentikan langkahnya dan berpaling menatapku dengan wajah heran. Aku berlalu meneruskan langkah menuju tangga darurat ke ruang editorial di lantai atas. Berbaur dengan orang lain dengan jarak sedekat itu walau tidak akan menjangkau angka satu dalam hitungan menit membuatku jengah. Aku takut ada yang mengenaliku.
Aku terbiasa
menghabiskan hari dalam kubikelkudengan duduk tenang, menenggelamkan diri
dalam hiruk-pikuk naskah yang harus kugauli sesuai peranku sebagai editor
penerbitan. Aku tak beranjak sedikitpun, bahkan saat jam istirahat siang tiba.
Aku akan tetap menghabiskan waktu istirahat dengan menyantap bekal buatanku di
dalam kubikel. Sehingga aku tidak perlu berurusan dengan siapapun. Tak ada
percakapan, tak ada sapaan, dan basa-basi. Hanya ada sederet pesan singkat yang
bermunculan di layar komputerku sebagai cara orang-orang di kantor ini
berkomunikasi denganku.
Aku sedang meringkuk di
meja kerjaku dalam kubikel yang berada di pojokan ruang yang menghadap ke arah jendela.
Kutajamkan telinga, sepertinya ada derap langkah yang menuju ke arahku. Aku
menunggu dan benar saja laki-laki dengan aroma maskulin yang menyergap hidungku
kini berdiri di depan mejaku.
“Hatsyii.” lagi-lagi
aku bersin. Aku memandang wajahnya dan sedetik kemudian mengalihkan pandangan
ke objek lain yang ada di belakangnya.
Aku tahu dia masih
menatapku tajam dengan pandangan menilai sembari menyodorkan sebuah flashdisk berwarna hitam.
“Kau Riana bukan?
Senior editor di kantor ini. Tolong kau baca dulu autobiografi ini. Aku ingin
kau menjadi editor autobiografi ini. Setelah selesai antarkan ke ruanganku.”. Setelah
menyelesaikan perkataannya, dia berlalu kembali ke ruangannya yang kutahu
berada dua lantai di atasku.
Kubaca dengan seksama
isi biografi seorang Arrendra Gunawan. Bercerita tentang perjalanan hidupnya
yang dimulai dari nol. Ia mengawali kariernya dua belas tahun yang lalu saat
masih menjadi mahasiswa semester dua jurusan sastra sebagai wartawan lepas di
sebuah harian ibukota. Karena kegigihan dan kepiawaiannya dalam menjalani
pekerjaannya, ia mampu melejitkan kariernya seperti saat ini. Sejenak aku
teringat pada orang yang kukenal dulu.
Dua jam kemudian aku
selesai karena memang tulisan ini sudah hampir mendekati sempurna sehingga tidak
perlu terlalu banyak koreksi yang perlu kuberikan. Kulangkahkan kaki pertama
kalinya sejak lima tahun yang lalu ke ruangan direktur kantor ini untuk menyerahkan
hasil kerjaku.
“Kau sudah selesai?”
tanyanya ragu.
Aku mengangguk kecil
sambil menyerahkan hasil kerjaku. Setelah membungkukkan badan untuk permisi aku
beranjak untuk kembali ke mejaku.
“Tunggu! Wajahmu
seperti tidak asing. Kau sangat mirip dengan seseorang.” ia mengerutkan dahinya
dengan raut memancarkan keraguan.
Aku menaikkan alis ke
arahnya dengan pandangan bertanya. Aku sangat yakin selama sepuluh tahun ini aku
telah berhasil bersembunyi dari duniaku dulu. Mengubah nama dan penampilanku
dari seorang Raina Khassandra menjadi Riana Iskandar. Yah boleh dibilang sekarang
aku menjelma menjadi seorang ‘nerd’
yang menolak bergaul dan dijauhi orang-orang. Aku menyerah dengan dunia namun
tidak dengan hidupku. Aku tidak akan mati konyol mengakhiri hidupku seperti
tokoh-tokoh di sinetron dengan cerita klise yang membosankan.
Setelah puas menatapku
lekat dia menggelengkan kepalanya mengusir keraguan dalam dirinya ia
mempersilakan aku pergi.
Hari ini aku datang
pagi-pagi untuk menyerahkan naskah novel yang sudah kuedit ke bagian
operasional percetakan dan penerbitan. Kulihat tak satu orang pun yang akan menaiki
lift dari lantai dasar. Kulangkahkan kaki memasuki kubikel sempit berdinding
logam yang sedikit pengap. Ketika pintu hampir menutup, seseorang berhasil
menyelinap masuk.
Arrendra Gunawan
berdiri di sampingku sibuk memainkan handphone
yang ada di tangannya. Lima detik kemudian dia berpaling ke arahku.
“Limabelas menit lagi
kamu ke ruangan saya.”
Aku menganggukkan
kepala bersamaan pintu lift yang terbuka menghadap lantai tiga bagian
percetakan dan penerbitan. Aku berlalu dari hadapannya dengan mengerutkan
kening mencoba menebak urusan apa yang membuatnya menyuruhku menghadap ke ruangannya
lagi. Bukankah autobiografinya sudah selesai kukerjakan dengan sempurna.
Berdiri di depan pintu
ruangannya membuatkan jantungku berdebar kencang menimbang-nimbang apa yang
akan terjadi. Kuketuk perlahan pintu itu.
“Ya. Masuk.” sahutnya
datar dari dalam.
Untuk sejenak aku
mematung di hadapannya. Ia beranjak dari duduknya berjalan mendekatiku, aku
memundurkan langkahku. Ia terus memojokkanku hingga aku terdesak ke dinding.
Kedua telapak tangannya diletakkan ke dinding membuatku terjebak di antara
kedua tangannya. Dia menatapku tajam seakan menimbang sesuatu. Dilepasnya
kacamataku dengan sekali hentakan kemudian menyeka poni dan rambut yang
menutupi sebagian wajahku. Dia terpana dan menatap nanar ke arahku.
“Sudah kuduga.” dia
mendesahkan napas dan melangkah mundur selangkah memberi jarak di antara kami.
“Kau Raina. Raina
Khassandra. Aku selama ini mencarimu. Jika kau ada di sekitarku aku dapat
mengenalimu tak peduli seberapa pintar kau merubah penampilanmu. Kau menghilang
begitu saja Raina.” lanjutnya sambil mendesah panjang.
Aku menatap wajahnya
tajam dan seksama. Berusaha mengingat-ingat sosok laki-laki di depanku. Dahiku
mengernyit membentuk tiga garis vertikal di antara alisku. Siapa dia? Apa aku
pernah mengenalnya?. Tidak. Aku sama sekali tidak dapat mengingatnya.
Rupanya dia dapat
membaca kebingunganku. “Aku adalah Endra sepupunya Tommy mantan tunanganmu
dulu.”
Aku terperanjat kaget,
sontak seluruh tubuhku bergetar menahan amarah yang kembali menyeruak setelah
sekian lama tidak mendengar nama itu. Nama orang yang kubenci setengah mati.
Sepuluh tahun ini aku berusaha mengubur kenangan tentang orang itu. Ya. Dia
adalah mantan tunanganku yang berselingkuh dengan rivalku di dunia tarik suara
yang sempat melambungkan namaku di usiaku belum genap dua puluh. Dengan
kejamnya mereka bersekongkol menaburkan racun ke dalam minumanku untuk membuat
pita suaraku rusak permanen. Aku tidak bisa menyanyi lagi bahkan untuk
berbicara pun suara yang keluar dari mulutku tak ubahnya seperti suara bebek
yang terjepit. Karierku hancur. Semua orang menjauhiku. Kecuali orang yang
sedang berdiri di hadapanku ini. Endra.
Endra yang dulu
hanyalah sosok laki-laki ceking dengan kacamata tebal dan rambut botak. Dia
yang berusaha menghiburku di tengah-tengah keterpurukanku. Kupikir dia hanya
merasa kasihan padaku. Diam-diam aku pergi tanpa pamit padanya.
Berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain. Hingga akhirnya lima tahun yang
lalu aku memutuskan menetap di kota ini dan memulai karierku sebagai seorang
editor yang ternyata sangat kusukai hingga kini. Itu sebabnya aku menjauhi
semua orang karena tidak ingin ada yang mengenaliku.
Tapi sepertinya
hari-hari tenangku telah sirna. Mengapa dia hadir di hadapanku saat ini dan merusak
segalanya. Memporak-porandakan zona aman yang telah kubangun dengan susah payah
selama ini.
“Tolong jangan
menghilang lagi dari hidupku Raina. Tahukah kau bagaimana sulitnya aku
menghadapi hidupku selama ini. Sepuluh tahun aku berusaha menemukanmu dan terus
melajang. Aku berpindah dari satu kota ke kota yang lain demi mengharapkan
bertemu denganmu.” pintanya dengan raut memelas.
Aku masih tak
bergeming. Mematung di tempatku bersandar pada tembok untuk menahan tubuhku
yang hampir limbung demi mendengar semua penjelasannya.
Cinta?
Cintakah aku pada dia? Sanggupkah aku menerima cinta lagi?
Sanggupkah
aku jika suat hari aku terluka lagi. Dalam diamku aku meragu.
Kuberanikan diri
menatap matanya yang masih memancarkan raut sendu, tergores jelas luka yang
ditanggungnya selama ini. Dia tampak bersungguh-sungguh. Dengan perlahan dia
melangkah maju mendekatiku membuka kedua tangannya dan memeluk tubuhku erat.
Sedetik kemudian badannya bergoncang halus di pelukanku. Dia terisak.
“Aku mohon Raina
tinggallah di sisiku jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku lagi. Aku
menyesal sepuluh tahun yang lalu tak sempat mengatakan perasaanku padamu. Tegakah
kau menyiksaku lebih lama lagi?” dia menarik tubuhnya dan menatap mataku dalam.
Berusaha mencari jawaban.
Akhirnya pertahananku
mulai runtuh, air mata mulai membasahi pelupuk mataku. Aku menghambur ke
pelukannya. Menumpahkan seluruh beban yang kutanggung selama ini. Ya. Aku sadar
aku juga mencintainya. Aku kutanggung segala konsekuensinya nanti.
Kulepaskan pelukanku
padanya dengan hati-hati. Kutatap matanya dengan tersenyum dan mengangguk
pasti. Senyum merekah menghiasi bibirnya. Matanya berbinar cerah mengiringinya
mengecup bibirku lembut.
"I love you Raina."
"I love you Raina."
‘Meski awalnya aku tidak lagi mempercayai
cinta. Namun Endra membuktikan aku pantas mendapatkan cinta itu lagi. Cinta itu
ditemukan dan menemukan. Seperti kisahku dan Endra yang ditakdirkan untuk
menjadi cinta. Cinta tak harus dipahami, cukup diterima dengan hati terbuka’
***
End

Comments
Post a Comment